Shalat merupakan ibadah yang kedudukannya sangat tinggi dalam Islam. Shalat lima waktu hukumnya wajib. Shalat wajib ini tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun.

Dalam keadaan sakit atau dalam perjalanan sekalipun, umat Islam tetap diwajibkan untuk melaksanakan shalat, tetapi dengan keringanan.

Misalnya, jika seseorang sakit dan tidak dapat shalat dengan berdiri, maka ia boleh melaksanakan shalat dengan duduk. Jika tidak mampu dengan duduk, ia boleh shalat dengan berbaring. Demikian pula orang yang tengah dalam perjalanan jauh. Ia mendapat keringanan dalam hal melaksanakan shalat dengan kebolehan untuk menjamaknya.

Selain tidak boleh ditinggalkan, nilai penting ibadah shalat wajib juga terletak pada kedudukannya sebagai amalan yang akan dihisab pertama kali di hari akhir kelak. Jika shalat seseorang baik, maka baiklah seluruh amalannya. Sebaliknya, jika shalat seseorang buruk, maka buruklah seluruh amalannya.

Shalat akan mencegah seorang muslim dari perbuata keji dan mungkar. Allah juga memerintahkan orang-orang Islam untuk menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong. Shalat merupakan ibadah yang agung.

Shalat adalah ibadah yang mempertemukan seorang hamba dengan Tuhan. Shalat juga merupakan bentuk doa yang paling sempurna. Di dalam shalat, seorang muslim memuji dan mengagungkan kebesaran Allah. Di dalam shalat pula manusia mengakui dirinya sebagai makhluk lemah dan tidak berdaya yang selalu bergantung kepada-Nya yang Mahatinggi, Mahaagung, dan Mahamulia.

Sedemikian penting dan mulia nilai ibadah shalat. Oleh karena itu, sudah semestinya seluruh umat Islam berupaya seoptimal mungkin agar dapat mencapai kualitas shalat yang terbaik, baik dalam kefasihan bacaan, kepantasan pakaian, ketepatan waktu, gerakan yang benar, maupun kekhusyukan.

Kekhusyukan merupakan hal penting yang mesti diupayakan agar dapat tercapai. Sebab, shalat yang tidak khusyuk tidak akan memberikan faedah yang optimal, yang mestinya faedah tersebut dapat dipetik jika seseorang mampu shalat dengan khusyuk. Sayangnya, banyak orang gagal mendirikan shalat dengan khusyuk. Mereka menjalankan shalat sekadar untuk menggugurkan kewajiban. Hanya lisan mereka yang melantunkan bacaan-bacaan shalat, tetapi pikiran melayang entah ke mana.

Kenapa shalat tidak khusyuk? Penyebabnya bermacam-macam, yang antara satu dengan orang lain tentu tidak sama. Penyebab shalat tidak khusyuk, antara lain sebagai berikut.

a. Terburu-buru
Shalat yang dilakukan dengan terburu-buru jelas akan menjauhkan seseorang dari kekhusyukan. Alasan orang shalat dengan terburu-buru bermacam-macam, antara lain shalat di akhir waktu sehingga khawatir waktu shalat akan habis sebelum ia menyelesaikan shalatnya, ingin segera melakukan suatu aktivitas, dan meninggalkan pekerjaan penting (misalnya, memasak dan kompor belum dimatikan).

Jika shalat menjadi tidak khusyuk karena dilakukan secara terburu-buru, satu-satunya jalan adalah shalat dalam keadaan yang tenang sehingga tidak perlu terburu-buru untuk menyelesaikannya.

Misalnya, shalat awal waktu, menyerahkan pekerjaan yang ditinggalkan kepada orang lain, atau memprioritaskan shalat pada urutan teratas dan aktivitas yang lain bisa ditunda.

b. Adanya gangguan dari lingkungan
Suara televisi atau radio, obrolan orang-orang, atau suara-suara gaduh lainnya dapat membuyarkan konsentrasi saat shalat. Oleh karena itu, agar shalat bisa khusyuk, sebaiknya seseorang menyingkarkan atau menjauhi gangguan tersebut.

c. Tidak ikhlas melaksanakan shalat
Tidak dapat dipungkiri bahwa ada di antara umat Islam yang menganggap shalat sebagai beban sehingga dilakukan dengan terpaksa. Ada pula orang yang shalat bukan karena Allah, tetapi karena manusia.

Perasaan tidak ikhlas ini akan membuat shalat juga tidak akan khusyuk. Untuk mengatasinya adalah memusatkan pikiran hanya kepada Allah, bahwa kita shalat karena Allah dan shalat itu kebutuhan kita. Jadi, kita tidak akan berat melakukannya.

d. Belum menghayati makna shalat
Ketiadaan kesadaran bahwa ketika shalat sesungguhnya kita tengah menghadap Allah, Dzat yang Mahatinggi dan Mahamulia akan membuat shalat terasa hambar dan pikiran pun melayang ke mana-mana.

Sebaliknya, jika kita mampu menyadari makna shalat dan merasakan kedekatan dengan-Nya, kita akan berupaya melakukan shalat dengan sebaik-baiknya. Ingatan akan maut juga dapat membantu membuat shalat menjadi lebih khusyuk. Misalnya, kita khawatir bagaimana seandainya shalat yang akan kita lakukan adalah shalat terakhir kita.

e. Tidak memahami arti bacaaan
Di dalam shalat, kita membaca bacaan-bacaan mulia yang sangat bermakna. Namun, apalah artinya kemuliaan bacaaan shalat tersebut jika kita sama sekali tidak memahaminya.

Ketidakmengertian arti bacaan shalat ini akan membuat kita sulit menghayatinya sehingga shalat pun menjadi tidak khusyuk.