Teologi Kerja : Bagaimana Menganggap Bekerja sebagai Ibadah?

Pernah berpikir bahwa Anda bekerja seharian, membanting tulang tanpa kenal lelah tetapi hasilnya sia-sia? Gaji atau upah segitu-segitu saja dan kebutuhan terus mencekik finansial.

Ada pemikiran untuk mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan pendapatan lebih besar atau bahkan melakukan kecurangan untuk memperoleh uang esktra? Tentu opsi terakhir tidak dibenarkan.

Namun, apabila Anda yakin dengan kemampuan Anda, berpindah profesi memang tidak ada salahnya, asal pekerjaan dan penghasilan yang didapat benar-benar halal. Mengapa? Karena bekerja dapat dinilai sebagai ibadah.

Bekerja sebagai ibadah mungkin sudah sering Anda dengar. Ibadah berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan, penghambaan dan penyembahan/pengagungan.

Banyak orang mengartikan ibadah hanyalah hal-hal yang diwajibkan dan berkaitan langsung dengan pengharapan pada pahala dari Allah seperti sholat, zakat, puasa, sedekah dan haji. Namun, menurut Ibnu Taimiyyah, yang dimaksud dengan ibadah adalah nama yang menggabungkan setia perkara yang disukai dan diridhoi Allah dari jenis perkataan atau perbuatan lahir dan batin.

Gratis - 4 Buku yang Amazing tentang Panduan Meraih Sukses Islami. DOWNLOAD Sekarang.

Secara garis besar, ibadah dikategorikan menjadi 2 hal:

1. Ibadah mahdhah, yaitu ibadah secara langsung kepada Allah, atau ibadah ritual. Rumusnya ibadah yang dilakukan karena Allah dan sesuai syariat.
2. Ibadah ghairu mahdhah, yaitu ibadah yang disamping berhubungan dengan Allah SWT juga melibatkan interaksi dengan sesama manusia dan makhluk lain.

Dari kedua katergori tersebut, bekerja termasuk ke dalam poin yang kedua, karena saat melakukan pekerjaan, Anda melakukan interaksi dengan orang lain, seperti bos, anak buah, klien atau juga pelanggan.

Bekerja sebagai ibadah sangat mungkin dilakukan. Bahkan di dalam Al-Qur’an banyak menerangkan perintah untuk bekerja, seperti yang tertuang pada beberapa ayat di antaranya Surat At-Taubah: 105, Qashash: 26 dan Al Jumuah: 10.

Rasullulah SAW juga menyampaikan yang intinya adalah kelelahan karena mencari nafkah dapat menghapus dosa yang bahkan dosa tersebut tidak dapat dihapus dengan shalat, zakat dan haji.

Lalu, bukankah Anda bekerja untuk mencari nafkah, memberi makan keluarga dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka? Namun, tidak semua jenis pekerjaan termasuk ibadah walaupun banyak hadist yang menerangkan kewajiban bekerja.

Bekerja sebagai ibadah itu bagaimana? Berikut adalah tipsnya:

1. Berniatlah dengan benar: Kegiatan mencari nafkah yang kita lakukan akan dinilai ibadah oleh Allah apabila diniatkan dengan lurus yaitu mencari nafkah karena Allah. Seperti yang tertulis pada Surat Al An-‘aamayat 162 yang artinya, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

2. Bekerja dengan cara yang benar: Niat yang lurus saja tidak cukup. Cara mengerjakan pekerjaan juga harus benar. Junjung tinggi sportifitas atau kejujuran. Pekerjaan yang mengandung unsur suap, korupsi atau mengambil hak orang lain tentu akan hilang nilai ibadahnya, walaupun pada awalnya kita berniat karena Allah.

3. Jenis pekerjaan yang baik: Ada banyak jenis pekerjaan yang tersedia. Kita tentu harus dengan bijak memilih mana yang menghasilkan pendapatan halal dan diridhoi oleh Allah.

4. Menjaga perilaku saat bekerja: Seringkali, kita tidak sengaja melakukan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh agama saat bekerja atau berada di lingkungan pekerjaan. Contohnya menggunjing, menjegal rekan kerja, menjilat atasan dan sebagainya. Hal-hal tersebut mungkin sepele, namun dapat menghapus nilai ibadah dari apa yang kita kerjakan.

5. Dilakukan dengan tulus dan ikhlas: Bekerja merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang dilakukan oleh manusia agar mendapat ridho dari Allah. Setelah kita berdoa melalui niat, kita berikhtiar dengan berusaha. Setelah itu kita bertawakal atas hasil apa yang akan kita dapatkan kelak atas apa yang kita ucapkan dalam doa dan upayakan dalam usaha.

6. Digunakan untuk hal yang baik: Setelah bekerja, biasanya kita memperoleh hasil baik itu berupa gaji atau laba. Akan lebih mudah mendapatkan ridho Allah atas rejeki tersebut apabila kita menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan menghindari penggunaan yang justru menjauhkan diri dari rasa bersyukur atau memboroskan pendapatkan kita tersebut.

9 Ilmu Online Paling Ampuh yang akan Membuatmu Makin Pintar dan Tajir. Pelajari ilmunya disini.