Memahami Rahasia Ilmu Produktivitas Menurut Islam

Pedoman hidup umat Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang sekaligus bukan hanya mengatur cara – cara atau tuntunan beribadah saja namun juga mengatur segala penyelesaian masalah, termasuk dalam hal mencari nafkah.

Rasulullah SAW bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati besok”. Namun sayangnya, banyak dari kita yang justru melakukan sebaliknya. Memang si era globalisasi saat ini, kita sebagai manusia produktif senantiasa dituntut untuk bekerja keras, bukan hanya sekadar rajin, setia dan gigih namun juga harus dapat menyeimbangkannya dengan nilai – nilai yang ada di dalam agam Islam.

Produktivitas atau bisa kita sebut sebagai etos kerja dibentuk oleh berbagai macam kebiasaan, pengaruh dan budaya termasuk sistem nilai yang diyakini. Di dalam Islam, kita mengenal kata itaon yang dapat diartikan bekerja dengan sungguh – sungguh dan sempurna. Bagi seorang muslim, etos kerja adalah semangat untuk selalu mengikuti jalan yang lurus, dan hal ini harus dijadikan pedoman oleh siapapun, yang bekerja sebagai apapun.

Sementara itu, pengertian kerja dalam cakupan yang luas dapat berarti semua bentuk usaha yang dilakukan oleh manusia, baik itu yang berkaitan dengan materi maupun non – materi, fisik maupun intelektual dan tentunya berkaitan dengan masalah – masalah keduniawian dan akhirat.

KH Toto Tasmara mengartikan makan dan bekerja bagi muslim adalah suatu bentuk upaya yang sungguh – sungguh dengan mengerahkan seluruh asset serta dzikirnya dalam usahanya untuk mengaktualisasikan arti dirinya sebagai seorang hamba Allah yang menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari suatu masyarakat yang terbaik.

Gratis - 4 Buku yang Amazing tentang Panduan Meraih Sukses Islami. DOWNLOAD Sekarang.

Bekerja juga bisa diartikan sebagai aktivitas dinamis yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan jasmani maupun rohani dengan upaya yang sungguh – sungguh untuk meraih prestasi yang maksimal yang merupakan bukti pengabdian diri kepada Allah SWT.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang melakukan pekerjaan dengan tekun, rapi dan teliti”. Seperti yang kita tahu bersama, Rasulullah sendiri selalu memilih seseorang yang tepat untuk melaksanakan suatu tugas. Beliau selalu melihat seseorang dari sisi keahlian, iman serta yang terpenting adalah kedalaman ilmu yang dimiliki.

Banyak sekali ayat al-Qur’an yang menyatakan keimanan yang diikuti oleh amal sale hang berorientasi kepada kerja dengan tidak melupakan intisari ketaqwaan. Pemakaian istilah perniagaan, hutang dan pertanian adalah satu wujud penghormatan kepada kerja sebagai amal saleh.

Bahkan bisa dikatakan bahwa Islam selalu menuntut agar setiap muslim melakukan pekerjaan yang dimiliki dengan sungguh – sungguh, namun tetap tidak melupakan kedudukannya sebagai seorang pemeluk Islam. Hal ini berarti bahwa kita sebagai muslim diwajibkan untuk bekerja dengan sungguh – sungguh namun tetap harus tetap mengikuti pedoman yang tertera di dalam al-Qur’an serta al-Hadits.

Secara jelas kita dapat mengambil pengertian dari penggalan hadits di atas bahwa kita sebagai manusia memang diwajibkan untuk bersungguh dalam mengejar masalah – masalah yang berkaitan dengan dunia, namun ada satu hal lagi yang jauh lebih penting, yakni orientasi atau usaha kita untuk mengejar akhirat.

Sekali lagi, sangat disayangkan bahwa banyak muslim yang terlalu fokus dalam mengejar dunia sehingga melupakan hakekat atau jati diri mereka sebagai muslim. Hal ini perlu menjadi peringatan kepada kita semua. Sekali lagi, kita harus ingat bahwa segala hal yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah, tidak terkecuali hidup kita. Segala yang kita miliki atau yang kita dapatkan di dunia ini akan kembali kepada Allah SWT, karena hanya kepada-Nya lah kita akan kembali.

Jadi, kesimpulannya, Islam memang mengharuskan kita untuk selalu bekerja atau melakukan pekerjaan yang kita miliki dengan etos kerja yang tinggi atau dengan kata lain dengan bersungguh – sungguh. Namun, Islam melarang kita untuk melupakan hakekat atau jati diri kita sebagai seorang muslim.

Di dalam usaha kita dalam mencari rejeki atau nafkah, kita senantiasa harus meniatkan atau mengembalikan segala yang akan kita dapatkan kepada Allah. Terakhir, mari kita bekerja dengan sungguh – sungguh dan mari kita tetap jalankan kewajiban – kewajiban kita sebagai seorang muslim, karena dunia itu hanya sementara dan akhirat itu abadi.

9 Ilmu Online Paling Ampuh yang akan Membuatmu Makin Pintar dan Tajir. Pelajari ilmunya disini.