Hukum Korupsi dalam Islam dan Fiqihnya

Semua orang tahu bahwa korupsi adalah sebuah kejahatan yang hukumannya bisa sangat berat menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia.Hukuman berat tersebut disebabkan oleh kegiatan korupsi yang telah mendarah daging di lingkaran pemerintahan Indonesia telah membuat masyarakat Indonesia menderita.

Uang rakyat yang seharusnya digunakan untuk memakmurkan rakyat justru membuat keadaan rakyat semakin sulit.

Nama baik negara pun menjadi tercemar di dunia internasional karena Indonesia yang cantik dan ramah, lebih dikenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi.

Namun, walaupun negara sudah menetapkan hukum yang jelas tentang korupsi, bagaimanakah Hukum Korupsi dalam Islam?Bagaimanakah fiqihnya sehingga kita yakin bahwa hukuman yang diberikan negara tersebut telah sesuai dengan syariat Islam?

Kata-kata korupsi memang tidak ada dalam Al Qur’an maupun Hadist, bahkan bahasa Arabnya pun tidak ada.Oleh karena itulah, banyak orang yang kesulitan untuk menemukan hukum pasti korupsi di dalam Islam.

Gratis - 4 Buku yang Amazing tentang Panduan Meraih Sukses Islami. DOWNLOAD Sekarang.

Namun, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam yang berarti semua peraturan untuk hidup di dunia baik pribadi maupun bermasyarakat ada dalam Islam.Dalam hal korupsi ini, kita bisa melihat dari ciri-ciri atau karakteristik korupsi yang selanjutnya kita samakan dengan hukum-hukum yang dijelaskan dengan gamblang dalam Islam.

Beberapa ulama telah mengkaji hal korupsi ini.Hasilnya, sebagian besar ulama mengkaitkan kegiatan korupsi dengan pencurian atau saraqah, penipuan atau al-ghasysy, suap atau risywah, pengkhianatan atau khiyanah, dan tindak kriminal atau ma’siyat.

Seperti yang kita ketahui bahwa para wakil rakyat tersebut telah mencuri uang rakyat dengan sembunyi-sembunyi yang berarti hirz mitsl. Pelaku korupsi telah menipu banyak orang dengan laporan-laporan palsu mereka.

Sebagian memberikan suap untuk memperlancar tujuan mereka dan yang lainnya menerima suap untuk memperkaya diri.Para pemimpin negara telah berkhianat kepada rakyatnya dengan tidak melaksanakan amanah yang telah diberikan kepadanya.

Kelakuan pelaku korupsi tersebut juga melakukan kegiatan ma’siyat yang tidak hanya merugikan satu golongan saja tetapi merugikan seluruh warga negara.

Dalam hal hukuman yang harus diberikan kepada pelaku korupsi, akan sangat sulit untuk menentukannya jika kita hanya melihatnya dari satu sisi saja. Misalnya, jika kita melihatnya sebagai pencurian, kita akan sulit untuk memberikan hukuman potong tangan sesuai dengan perintah dalam Al Qur’an karena bentuk pencurian dalam korupsi berbeda dari pencurian biasa. Oleh karena itulah, lebih banyak yang mengkategorikan hukuman korupsi dalam hal penipuan dan penghianatan.

Sebagian ulama juga menyetujui bahwa tindak korupsi bisa masuk dalam hukum ta’zir karena tindakan yang dilakukan oleh pelaku korupsi dinyatakan sebagai tindakan yang melanggar kepentingan umum atau yang biasa disebut Mashalih Al-Ammah.

JIka benar-benar terbukti bahwa tindakan yang dilakukan melanggar dan sangat merugikan kepentingan umum, hukuman yang dijatuhkan bisa saja hukuman mati.

Tentunya kita juga tidak bisa menjatuhkan hukuman mati kepada setiap pelaku korupsi karena akibat yang ditimbulkan dari tindakan korupsi tersebut berbeda-beda.Dalam hal ini, kita bisa mengikuti keputusan hakim pengadilan yang merupakan utusan dari ulil-armi kita yaitu pemerintah Indonesia.

Yang terpenting dari semuanya adalah bagaimana kita bisa meyakinkan besarnya dosa korupsi pada umat sehingga mereka takut dan bisa menjauhi semua yang berhubungan dengan korupsi.

Jangan lupa untuk memulai dari diri sendiri untuk tidak pernah melakukan korupsi, menyebarkan semangat anti korupsi, dan hapus korupsi dari budaya Indonesia. Ciptakanlah citra Indonesia yang Islami dan bersih dari kegiatan yang mengandung dosa.

9 Ilmu Online Paling Ampuh yang akan Membuatmu Makin Pintar dan Tajir. Pelajari ilmunya disini.