Hukum Kegiatan Trading (Saham, Emas, Forex, Derivatif) dalam Islam

Saat ini, trading menjadi kegiatan primadona bagi banyak orang untuk mencapatkan uang yang banyak dalam waktu yang singkat, dan dengan cara yang mudah. Pesona trading tampaknya memang sulit untuk ditolak oleh banyak orang.

Hal ini karena banyak perusaan pialang yang memberikan janji-jani manis berupa keuntungan yang besar bagi siapa saja yang berinvestasi di bidang trading ini.

Kita dapat melihat betapa masyarakat begitu berbondong-bondong menginvestasikan dana di bidang trading. Mereka berharap dapat memperoleh pengembalian investasi yang menguntungkan dalam waktu yang cepat.

Tampaknya, mereka yang memutuskan untuk menerjuni kegiatan trading tidak pernah mempertanyakan hukum kegiatan trading (saham, emas, forex, derivatif) dalam Islam.

Lantas, bagaimana sebenarnya hukum kegiatan trading (saham, emas, forex, derivatif) dalam Islam? Sesungguhnya di antara mereka yang tidak mempersoalkannya, banyak pula umat Islam yang meragukan kehalalan kegiatan trading ini.

Khusus untuk perdagangan saham, para pakar hukum Islam mengemukakan pandangan sebagai berikut.

a. Terlibat dalam jual beli saham diperbolehkan untuk saham-saham dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang bersifat mubah. Dalam hal ini, tidak ada unsur produk haram atau kegiatan ribawi.

b. Terlibat dalam jual beli saham untuk perusahaan-perusahaan yang memperoduksi produk-produk yang haram (misalnya, perusahaan minuman keras atau rokok), atau kegiatan usahannya haram karena ada kegiatan ribawi, maka hukumnya dilarang.

c. Diperbolehkan terlibat dalam jual beli saham dengan sejumlah catatan, yaitu saham tersebut bukan termasuk jenis saham saham istimewa/preferen (preffered stock) atau saham kosong. Yang diperbolehkan adalah jual beli untuk saham saham biasa (common stock)

d. Tidak ada unsur spekulasi (gambling) dalam kegiatan jual beli saham. Unsur spekulasi ini akan mendorong terjadinya aktivitas bisnis yang tidak produktif.

Bagaimana dengan kegiatan trading yang lain, yaitu perdagangan emas, forex (valas), dan derivatif? Di dalam Islam kegiatan jual beli atau bisnis harus memenuhi unsur-unsur berikut ini.

a. Bebas dari unsur spekulasi atau gambling (maysir).

b. Terbebas dari unsur riba (riba).

c. Bebas dari unsur manipulasi, penipuan, dan ketidakjelasan (gharar).

Dari prinsip-prinsip bisnis dalam syariah Islam ini, kita dapat membandingkannya dengan praktik kegiatan trading untuk mengetahui apakah tading sebaiknya kita tinggalkan atau boleh kita lakukan.

Berikut adalah pandangan para ulama mengenai hal ini.

a. Faktanya, perdagangan valas (forex) dilakukan bukan untuk memiliki memiliki valas tersebut, melainkan menjadikannya komoditas untuk spekulasi semata. Jual beli tidak dilakukan secara tunai dan jual putus. Jadi, ada unsur spekulasi di sini.

b. Kegiatan trading tidak memenuhi rukun ada uang ada barang yang merupakan rukun jual beli dalam Islam. Oleh karena itu, banyak ulama yang menolak jenis jual beli ini.

a. Dalam kegiatan trading ada praktik penjualan melebihi jumlah yang dimiliki atau dibeli (praktik oversold). Dalam Islam, praktik bisnis semacam ini merupakan praktik bisnis yang dilarang, sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya masih banyak pendapat pakar ekonomi Islam yang setelah melakukan pengkajian yang mendalam, mendapati bahwa sebagian kegiatan trading tidak memenuhi kaidah-kaidah hukum Islam dalam jual beli.

Oleh karena itu, sebelum Anda memutuskan untuk menggeluti bidang trading, ada baiknya Anda mengkaji lebih dalam bagaimana sesungguhnya hukum kegiatan trading (saham, emas, forex, derivatif ) dalam Islam. Sikap kehati-hatian sangat kita butuhkan agar kita terhindar dari melakukan kegiatan bisnis yang dilarang ajaran agama.