Beberapa dekade yang lalu, kecerdasan diyakini hanya sebagai kecerdasan intelektual yang bersifat kognitif. Satu-satunya instrumen untuk mengukur kecerdasan adalah nilai-nilai akademik yang tinggi.

Mereka yang berhasil menarih nilai tinggi di bidang IPA dan IPS, seperti matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, dan akuntansi, dikatakan sebagai orang yang cerdas.

Sebaliknya, orang yang nilai akademik di bidang-bidang tersebut kurang, dikatakan kurang pintar, meskipun nilai bahasanya tinggi, jago musik, juara olahraga, atau memiliki kemampuan sosial yang bagus. Seiring perjalanan waktu, teori-teori tentang kecerdasan pun mulai bermunculan.

Hingga seorang psikolog dari Harvard Graduate School of Education, Prof. Howard Gardner, memperkenalkan sebuah teori kecerdasan yang dikenal sebagai teori kecerdasan majemuk multiple intelligence theory.

Menurut teori ini, manusia setidaknya memiliki delapan jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan matematis-logis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis.

Berdasarkan teori kecerdasan majemuk ini, semua orang diakui sebagai cerdas. Sebab, setiap orang pasti memiliki keunggulan di beberapa atau salah satu bidang kecerdasan.

Tidak mungkin ada orang yang memiliki kecerdasan yang unggul atau menonjol di delapan bidang kecerdasan tersebut. Sebaliknya, mustahil pula ada orang yang sama sekali tidak memiliki kecerdasan yang menonjol di antara delapan jenis kecerdasan tersebut.

Ada lagi satu jenis kecerdasan yang belum tercakup ke dalam kecerdasan majemuk dari Prof. Howard Gardner, yang saat ini terus dikaji dan diyakini memiliki manfaat yang besar bagi kehidupan seseorang yang terus berupaya mengembangkan jenis kecerdasan ini dalam dirinya. Itulah kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ).

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang berdimensi vertikal. Kecerdasan ini pertama kali dikembangkan oleh Danah Zohar dan Ia Marshall.
Ary Ginanjar Agustian menerangkan bahwa kecerdasan spiritual berisi suara hati. Sedangkan, hati merupakan bagian dari aspek spiritualitas.

Sementara itu, Harjani Hefni menjelaskan bahwa suara hati merupakan suara kebenaran yang ditiupkan Allah kepada manusia, yang ditiupkan bersamaan dengan peniupan ruh pada jasad. Suara hati tidak dapat dibohongi dan selalu berkata apa adanya.

Kecerdasan spiritual pada diri seseorang ditandai dengan adanya kesadaran untuk menggunakan pengalaman yang dimilikinya sebagai bentuk aplikasi makna dan nilai.

Ketika kecerdasan spiritual pada diri seseorang berkembang dengan baik, maka pada orang tersebut akan melekat karakteristik, antara lain sebagai berikut.

a. Mampu merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah hidupnya.
b. Mampu bersikap fleksibel.
c. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan

d. Memiliki tingkat kesadaran yang tinggi
e. Mampu menghadapi rasa sakit dan penderitaan

f. Mampu mengambil pelajaran berharga atau hikmah dari suatu kegagalan
g. Mampu mewujudkan visi dan misinya dalam kehidupan nyata

h. Mampu melihat korelasi antara berbagai hal
i. Mandiri
j. Mengerti akan makna hidupnya

Kecerdasan spiritual adalah bentuk kecerdasan yang hakiki. Kecerdasan ini akan membawa manusia mampu memahami makna hidupnya, dan mengantarkannya pada kualitas terbaik serta ketinggian derajat sebagai insan mulia.

Oleh karena itu, mengembangkan kecerdasan spiritual dalam diri menjadi upaya penting yang harus dilakukan oleh siapa saja yang menginginkan menjalani hidup dengan penuh makna, dengan kualitas sebagaimana yang diperintahkan oleh SWT. Menjalani hidup dengan setia pada kebenaran, jujur, adil, sabar, ikhlas, bermental baja, dan sebagainya.

Ada ragam cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, antara lain sebagai berikut.

a. Mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagai cara.
b. Meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah.
c. Membiasakan diri membaca Al-Qur’an.

d. Merumuskan berbagai tujuan hidup.
e. Membaca berbagai kisah berdimensi spiritual dari berbagai referensi.
f. Menikmati keindahan dan keagungan alam raya.

g. Terlibat aktf dalam kegiatan-kegiatan sosial.
h. Lebih sering berada di dekat orang-orang yang hidupnya tidaklah seberuntung kita dalam hal materi, kesehatan, keluarga, tempaat tinggal, dan sebagainya.