Bagaimana Caranya Meraih Kenikmatan Shalat Khusyu?

Shalat adalah media untuk mendekatkan diri dengan Allah sekaligus media komunikasi dengan Allah. Kita memang tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Allah karena hanya para nabi yang bisa, namun kita bisa memuji, meminta, dan mengadu kepada Allah.

Meski ini adalah sepertinya komunikasi satu arah, namun sesungguhnya ini adalah komunikasi dua arah karena Allah selalu memperhatikan kita dan membalas setiap apa yang kita lakukan.

Yang jelas adalah kita berdiri, ruku’, sujud, dan semua do’a lainnya dalam rangka kita menghadap Allah. Semua lafadz-lafadz dzikir kita, semua pujian-pujian kita, dan semua do’a kita ditujukan hanya untuk Allah. Maka pantaskah jika kita melakukannya dengan sedikit kesadaran?

Ada sebuah dialog (komunikasi) antara kita (hamba-Nya) dengan Allah saat kita sedang membaca surat Al Fatihah sebagaimana digambarkan oleh sebuah hadits Qudsi:

Rasulullah saw bersabda, “Allah SWT befirman, “Aku membagi shalat dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Buat hamba-Ku apa yang dia minta.” Bila dia membaca, “Alhamdulillahi rabbil aalamiin”, Allah berfirman, hamba-Ku telah memuji-Ku. Bila ia membaca “Ar Rahmanir Rahiim”, Allah berfirman, hamba-Ku menyanjung-Ku. Bila ia mengatakan, “Maliki yaumiddin”, Allah berfirman, hamba-Ku mengagungkan-Ku. Bila ia membaca, “Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’iin”. Allah berfirman, ini antara Aku dan hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang ia pinta. Bila ia membaca, “Ihdinash shiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim wa laadl dlalliin” Allah berfirman, ini antara Aku dan hamba-Ku dan buat hamba-Ku apa yang ia pinta. ”(HR Muslim)

Bahkan ada satu saat dimana merupakan posisi paling dekat dengan Allah, yaitu saat bersujud. Saat sujud, kita menundukan semua anggota tubuh kita dan memanjatkan pujian atas keagungan dan kebesaran Allah SWT.
“Hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah do’a.” (HR Muslim).

Disebutkan dalam hadits diatas, Rasulullah swt menganjurkan kepada kita untuk berdo’a, karena kita sedang dalam posisi paling dekat, dimana sebuah posisi yang menunjukan ketundukan yang total, dan disanalah justru menjadi kekuatan kita. Salah satu kekuatan kita adalah terkabulnya do’a saat sujud. Jika Allah sudah memperkenankan, siapa yang bisa menghalangi?

Shalat dan juga ibadah-ibadah lainnya adalah penggugur dosa. Jika kita melakukan shalat, shalat yang benar-benar diterima oleh Allah, maka dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT sebagaimana yang dijelaskan melalui hadits dibawah ini:

Ibnu Mas’ud saat menyampaikan bahwa Rasulullah saw berkata: ”Kalian berbuat dosa, tapi kalian telah melakukan shalat subuh dan shalat itu membersihkan. Kemudian kalian berbuat dosa, tapi jika kami melakukan shalat dzuhur, maka shalat itu membesihkannya. Kemudian kalian berbuat dosa lagi, tapi jika kalian melakukan shalat ashar maka shalat itu membersihkannya. Kemudian kalian berbuat dosa lagi, tapi jika kalian melakukan shalat maghrib, maka shalat itu membersihkannya. Kemudian kalian berbuat dosa lagi, tapi jika kalian melakukan shlat isya’, shalat itu akan membersihkannya. Kemudian kalian tidur, tidak lagi dicatat dosa bagi kalian hingga kalian bangun.” (HR Thabrani)

Dan masih ada dalil-dalil lain yang menjelaskan bahwa shalat itu adalah penggugur dosa. Maka sangat disayangkan, bagi kita yang berlumuran dosa tetapi shalatnya tidak diterima atau tidak sepenuhnya diterima karena kita tidak khusyu’ dalam mendirikannya.

Bukan hanya akan menggugurkan dosa, tetapi