Kemuliaan untuk Membangun Gaya Hidup Sederhana

Di dalam paham kapitalis, kebahagiaan selalu diukur dengan banyak sedikitnya materi yang dimiliki. Bahkan saat ini, sebagian kalangan masyarakat terkesan berpikir bahwa hidup belumlah sah atau lengkap apabila belum memiliki berbagai atribut kemewahan.

Meski sudah hidup dengan layak, namun masih banyak yang merasa belum cukup. Hidup dengan sederhana sepertinya bukan lagi impian atau sudah tidak lagi dianggap ideal. Dan, kalaupun ada yang hidup dengan cara sederhana, hal itu semata – mata karena memang keadaan yang memaksa mereka untuk seperti itu.

Saat ini, budaya hura – hura dan konsumtif sepertinya telah menjadi satu budaya bahkan sudah sangat mengakar di kehidupan manusia. Mimpi dan keinginan untuk dapat hidup mewah sepertinya bukan lagi melanda kalangan menengah ke atas saja namun golongan kurang mampu pun juga ingin bermewah – mewahan. Continue reading

Membedah Keajaiban Rezeki menurut Perspektif Islam

Perihal rezeki memang selalu menarik untuk diperbincangkan, bahkan dari kalangan petani, pedagang hingga cendekiawan sering menjadikan topik pembahasan. Rezeki juga seringkali menjadi satu permohonan yang dipanjatkan di dalam doa, hal itu menunjukkan bagaimana pentingnya rezeki bagi kita manusia. Namun sayangnya, banyak terjadi kesalahkaprahan ketika perihal rezeki ini menjadi topik bahasan.

Ada sebagian kalangan yang terjebak ke dalam satu area yang keliru sehingga membuat mereka kemudian mengambil jalan yang berbeda yang tidak berpedoman kepada al-Qur’an dan al-Hadits. kaum muslim seringkali “rela” meninggalkan apa yang sudah menjadi kewajibannya hanya untuk mengejar rezeki.

Kata rezeki atau rizki sendiri dipercaya merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab “razaqa” yang artinya memberi sesuatu. Continue reading

Memahami Rahasia Ilmu Produktivitas Menurut Islam

Pedoman hidup umat Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadits yang sekaligus bukan hanya mengatur cara – cara atau tuntunan beribadah saja namun juga mengatur segala penyelesaian masalah, termasuk dalam hal mencari nafkah.

Rasulullah SAW bersabda: “Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya dan beribadahlah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati besok”. Namun sayangnya, banyak dari kita yang justru melakukan sebaliknya. Memang si era globalisasi saat ini, kita sebagai manusia produktif senantiasa dituntut untuk bekerja keras, bukan hanya sekadar rajin, setia dan gigih namun juga harus dapat menyeimbangkannya dengan nilai – nilai yang ada di dalam agam Islam.

Produktivitas atau bisa kita sebut sebagai etos kerja dibentuk oleh berbagai macam kebiasaan, pengaruh dan budaya termasuk sistem nilai yang diyakini. Di dalam Islam, kita mengenal kata itaon yang dapat diartikan bekerja dengan sungguh – sungguh dan sempurna. Bagi seorang muslim, etos kerja adalah semangat untuk selalu mengikuti jalan yang lurus, dan hal ini harus dijadikan pedoman oleh siapapun, yang bekerja sebagai apapun. Continue reading

Strategi Jitu untuk Menjadi Pengusaha Sukses Dunia dan Akhirat

Dalam agama Islam, kesuksesan tidak diterjemahkan melalui sisi dunia semata tetapi juga berorientasi pada kehidupan di akhirat. Kesuksesan seperti ini hakiki, dimana seseorang memiliki kepribadian yang tenang, terampil, terencana, tekun, tertib, tegar dan tawadhu. Ia juga mempunyai kredibilitas tinggi serta dapat dipercaya atas kejujuran, kecakapan dan kemampuan untuk selalu mengembangkan diri dunia akhirat.

Setiap manusia diwajibkan berusaha dan berdoa serta menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Mencari rejeki yang halal menjadi salah satu upaya yang sangat dianjurkan. Tidak ada salahnya untuk terus berusaha agar menjadi pribadi yang sukses. Namun, seringkali kesuksesan yang identik dengan kehidupan mewah dan kecintaan terhadap dunia berlebihan menjadikan seseorang mendapatkan pengaruh buruk dari harta yang melimpah, sehingga ia menjadi hamba yang lalai.

Rasulullah memperingatkan kepada seluruh umat Beliau tentang besarnya fitnah (kerusakan) harta dan kedudukan duniawi dalam merusak agama dan keimanan seseorang. Continue reading

Bagaimana Islam Memandang Kekayaan?

Hidup dengan kekayaan yang berlimpah menjadi dambaan banyak orang. seseorang dikatakan sukses apabila ia memiliki harta dan kehidupan yang serba cukup. Pendidikannya juga dianggap bagus apabila mampu membawanya meraih tingkat kesuksesan secara finansial. Lalu, bagaimanakah Islam memandang kekayaan itu sendiri?

Secara garis besar, kekayaan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk terus bertahan hidup dengan gaya hidup yang ada, tanpa harus bekerja. namun, sebenarnya kaya itu relatif. Ada orang yang tetap dapat bertahan hidup setelah berhenti bekerja.

Sebagian besar kondisi tersebut didukung kekuatan finansial yang datang dari pendapatan pasif atau passive income yang diperoleh dari investasi. akan tetapi, adapula orang-orang berpenghasilan tinggi yang tetap merasa tidak kaya sebab gaya hidupnya mempengaruhi cara mereka menggunakan kekayaannya.

Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk menjadi kaya. Bahkan mencari kekayaan disyariatkan dalam Islam karena itu berarti mencari rejeki dan berusaha di dunia sebagaimana yang dicantumkan dalam banyak ayat di Al-Qur’an, seperti: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi ; dan carilah karunia Allah” (QS. Al Ahzab: 10). Con